Menu

Dasar Tauhid dalam Islam

27/03/2016 | Aqidah
Bagikan :

Bersyukurdanikhlas.com – Pada suatu hari Rasulullah saw meneteskan air mata karena terharu. Beliau terharu melihat peristiwa antara dua insan, antara seorang anak dengan bapaknya, Amran dan Hushain nama mereka. Ketika beliau ditanya oleh para hadirin, Beliau tertegun sejenak lalu bercerita:

“sesungguhnya saya sangat terharu melihat Amran memeluk dan menciumi ayahnya dimana semua orang yang hadir membelalakkan matanya penuh perhatian terhadap orang tua itu”

Di kalangan orang Quraisy, Hushain ayah amran terkenal dengan kecerdasan otaknya dan kebijaksanaannya yang tinggi. Apabila Quraisy ditanyai siapakah orang yang paling cerdas dan bijaksana di Mekah, paling pandai menggunakan akal dalam menanggapi segala sesuatu dengan tepat dan penuh kebijaksanaan tanpa terpengaruh oleh lingkungan atau situasi dan kondisi, tiadalah yang akan disebutkan selain nama Hushain ayah Amran tadi.

tauhidsumber gambar : bukhoridpr.blogspot.com

Ini diakui dan dikenal benar oleh Rasulullah saw karena kecerdasan dan kebijaksanaannya itu, maka ia diutus Quraisy untuk membujuk Rasulullah saw supaya menghentikan kegiatannya berda’wah dan kembali kepada agama Quraisy.

Sementara Hushain menuju Rasulullah saw maka seluruh mata para sahabat tertuju kepadanya penuh perhatian kecuali mata Amran si anak yang telah memeluk islam. Selama itu amran menundukkan kepala seakan-akan tak mengenalnya. Dalam pada itu Rasulullah saw memperhatikan sikap Amran tadi.

“hai Muhammad saya diutus Quraisy untuk mengajak anda kembali ke agama nenek moyang anda dan menghentikan kegiatan anda untuk agama baru itu”  ujar Hushain ayah Amran

Ajakan tersebut oleh Rasulullah saw disambut dengan penuh kesopanan dan kebijaksanaan seraya berkata:

“hai Hushain lebih dahulu saya ingin bertanya kepada anda, berapa Tuhan yang kalian sembah itu?”

Hushain terperanjat ketika mendengar pertanyaan tadi yang tak pernah diduganya semula tetapi kemudian ia jawab:

“ada delapan…. satu di langit dan tujuh di bumi…. “

Lalu Rasulullah saw bertanya lagi:

“bilamana kalian tertimpa oleh suatu malapetaka, maka kepada siapakah kalian memohon pertolongan?”

“kepada yang di langit itu” sahut Hushain

“jika anda dan salah satu dari keluarga anda sakit, maka kepada yang manakah anda mengeluh?” tanya Beliau

“tentu kepada yang langit itu jua” sahutnya tanpa bimbang

Kini Rasulullah Saw hendak mempergunakan kebijkasanaan dan kecerdasan otak Hushain yang tak dapat dipengaruhi oleh siapapun baik oleh situasi maupun kondisi dan kepentingan pribadi, maka beliau ajukan pertanyaan lagi suatu pertanyaan yang menentukan:

“hai Hushain…. saya mengharapkan kejujuran anda dalam menjawab pertanyaan saya ini: “menurut keterangan-keterangan anda tadi, maka dengan alasan apa anda menyembah tujuh berhala yang ada di bumi jika segala kebutuhan anda, anda harapkan daripada yang satu itu… yaitu yang di langit… baik sementara anda dalam kesulitan maupun dalam mengharapkan apa-apa?”

Hushain tertegun sejenak lagi. Ia tak dapat menjawab segera. Otaknya yang cerdas dan fikirannya yang tajam itu telah tergugah dan tersentuh oleh pertanyaan-pertanyaan Rasulullah Saw tadi. Akal yang merupakan suatu anugrah dan nikmat yang diberikan Allah kepada manusia.

Akal yang dipergunakan sebagaimana mestinya dan sebaik-baiknya akan membawa kesejahteraan hidup bagi pemiliknya di dunia dan akhirat, kesejahteraan lahir dan batin sepanjang masa. Akal itulah yang kemudian dipergunakan Hushain sebagaimana lazimnya.

Sejenak ia menundukkan kepala kemudian menatap wajah Rasulullah Saw dengan penuh kesadaran dan keyakinan seraya mengeluarkan pernyataan :

“Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan anda hai Muhammad benar adalah utusan Allah”

Amran bin Hushain setelah mendengar ayahnya mengucapkan kalimat syahadat tadi, maka segera ia melompat menuju ayahnya lalu memeluk dan menciumnya dengan penuh haru disertai kegembiraan yang tak dapat dilukiskan. Peristiwa inilah yang menyebabkan RAsulullah Saw terharu dan meneteskan air mata seperti Amran.

Sesungguhnya orang-orang musyrik baik di mekah tidak ingkar terhadap allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa yang menciptakan alam semesta dan diri mereka. Mereka percaya dan benar-benar mereka mengenal Allah. Mereka bukan atheis, hanya mempersekutukan beberapa oknum tertentu dengan Allah Tuhan Yang Maha Esa dalam uluhiyah dan rububiyah.

Dalam Surat Azzumar (QS 39:38) Allah memberikan tentang hakekat tadi:

Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Maka Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaKu, Apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaKu, Apakah mereka dapat menahan rahmatNya?. Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku”. kepada- Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri.

Bagikan ke teman anda :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
tags:
loading...

Related For Dasar Tauhid dalam Islam

Authors

loading...

Kategori

Berlangganan via Email

Masukkan alamat email anda untuk berlangganan di blog ini, anda akan menerima pemberitahuan tulisan terbaru melalui email.

Join 1 other subscriber